Kebiasaan di Masyarakat yang (Mulai) Pudar
Posted by ganzimaru
Terinspirasi dari salah satu postingan salah satu fanspage di facebook yang membahas budaya yang mencerminkan identitas orang Indonesia. Namun perlahan-lahan mulai luntur di tengah modernisasi saat ini, padahal budaya ini merupakan kebiasaan yang telah tumbuh di masyarakat sejak jaman kakeknya kakek dari kakek buyut kita dulu. Kebiasaan yang bisa mudah kita temukan dimana saja.
1. Cium Tangan (Salim) pada Orang Tua
Dulu saat jaman sekolah orang tua mengharuskan anaknya untuk cium tangan dulu saat mau berangkat. Istilah sehari-hari itu salim
mungkin di setiap daerah berbeda sebutannya. Dengan cium tangan orang tua, kita itu memberikan rasa hormat yang tinggi. . . lagipula biasanya cium tangan itu kalau kita hendak pergi meninggalkan atau tiba di rumah, orang tua tentu merasa dihormati. Cium tangan merupakan aktivitas ringan tapi saat ini udah mulai jarang dilakuin kalau tidak diingetin sama orang tua. . . ini pendapat subjektif sih . . soalnya dari yang saya lihat sehari-hari . . . anak jaman sekarang ngerasa paling ghaul . . terpengaruh sinetron di tivi tuh
2. Memakai Tangan Kanan
Saat masih anak-anak dulu pasti diajarkan oleh orang tua, ”hayoo pake tangan bagus”. Kita diajarkan untuk selalu pakai tangan kanan untuk berjabat tangan, memberi atau menerima barang, dan saat makan. Selain anjuran dari agama, kebiasaan memakai tangan kanan ini sudah terpatri di mindset masyarakat luas dari jaman nenek buyut dulu. Siapapun kalau menerima barang dari orang lain dengan memakai tangan kiri, tentu terbesit di pikiran kalau orang itu “nglamak” atau tidak punya sopan santun. Kecuali untuk mereka yang punya keterbatasan fisik atau kidal, orang masih memaklumi. Kalaupun tangan kanan sedang membawa barang, kita bisa pakai tangan kiri dengan bilang “amit” kalau orang jawa bilang. Nah kalau sekarang ini, mereka yang ngerasa orang modern dengan santainya pakai tangan kiri saat memberi atau menerima barang… itu yang biasa saya lihat. . apalagi di kampus . . . mungkin biar terkesan elit gitu

3. Senyum Sapa
Negara kita terkenal dengan keramahtamahannya . . . sering saya dengar kala orang bule banyak yang takjub dengan keramahan orang Indonesia yang murah senyum dan sapa. Tapi sekarang tidak semua orang seperti itu. . . imho.. sebagian orang lebih milih jaga gengsi, merasa kalau “Situ siapa ? enak banget dapat senyuman gue” . weew..
. Sebagian anak jaman sekarang lebih jaim dari anak jaman dulu, terlebih lagi yang hidup di perkotaan, imho, cmiiw.
4. Musyawarah Mufakat
Masyarakat mengedepankan musyawarah untuk mencapai hasil terbaik yang disepakati bersama. Dengan mengesampingkan kepentingan pribadi untuk kepentingan umum. Di daerah pedesaan masih saya temui hal seperti ini. . . tapi kalau diperkotaan. . tidak semua. Sebagian penduduk di perkotaan mengedepankan ego masing-masing. Pergeseran norma dan budaya di perkotaan jauh lebih besar daripada di pedesaan, imho, cmiiw.
5. Gotong Royong
Modernisasi turut membuat orang menjadi individualistis. Hanya mementingkan urusannya sendiri, malu untuk berbaur. Saya sendiri merasakan perbedaan yang jauh antara masyarakat perkotaan dengan pedesaan. Anda tahu sendiri laah . . di desa itu masyarakat bergotong royong untuk mecapai tujuan bersama membangun lingkungannya yang lebih baik. Contoh sederhana kalau pas ada nikahan.. tetangga sekitar bahkan dari kampung sebelah tanpa disuruh langsung bantu-bantu di rumah yang punya hajat
. Semoga budaya seperti ini akan terus ada.
Lain halnya kalau di perkotaan, “sini bantu situ, sini dapet apa ?” , Ini fakta
Masih banyak lagi kebiasaan di masyarakat yang mulai memudar seiring dengan pergesaran nilai dan norma di masyarakat akibat modernisasi serta pengaruh dari media. Apalagi dari tayangan televisi, Masyarakat sangat mudah terpengaruh dengan apa yang mereka tonton. apalagi anak-anak
Monggo pendapatnya
(#75)
Share this:
Posted on 17.01.2013, in My Stories, Reflection | Religi and tagged Budaya, Indonesia, Kebiasaan, Masyarakat. Bookmark the permalink. 12 Comments.









no 1 – 3 udah tak terapin sama anak2ku yg masih kecil om..
semoga kebiasaan itu berlanjut sampai mereka dewasa nanti..
Amiin.. anak sekarang lebih cepet dewasa mas
Wah sayang sekali kalau kebiasaan yg positif malah hampir punah.
http://nofgipiston.wordpress.com/2013/01/17/wah-katanya-honda-versa-lebih-irit-dibandingkan-dengan-motor-bebek/
mau menanggapi yang nomer 3 aja deh oom Ganzimaru
mungkin orang mulai jarang tersenyum karena stress, gengsi, atau mulai egois.
Padhal orang yang murah senyum rejekinya lancar karena temannya pasti banyak
Senyum juga bikin sehat
Banyak senyum banyak rejeki.. ayo senyum
bener mas.
ane malah sering pakai tangan kiri gara2 kidal, malah dibentak ortu. aduh udah kebiasaan. kalo salaman sih tetep tangan kanan
kondisi sekarang :
1. cium tangan plus pipi kiri dan kanan pasangan (baik lawan atau sejenis)
2. memakai tangan kanan dan kiri krn menurut pendapat psikolog menggunakan tangan kiri bisa menyeimbangkan susunan otak
3. Senyum sapa kesemua orang dikira ndak normal (emang eluh siapa?)
4. Musyawarah Mufakat, aah itu kan hanya di UUD, anggota dewan aja benrok kok
5. Gotong Royong, elu aja kali yaa…meski hari minggu gua masih kerja meeen…hari geneee nganggur…cpd
Super sekali pendapat anda
“Meski hari minggu gua masih kerja meeen ”
nasib sales yee
peace
tambahan, skrg banyak yang makan dan minum sambil berdiri hihihihihi. alhamdulillah anak ku dibiasakan untuk memakai tangan kanan, salim, de el el lah. seperti org dulu. saya malah seneng jika kelak anak saya dibilang kurang ‘gaul’ kwkwkwkk
Gak gaul sama gak sopan itu beda jauh
Yang penting masih tahu nilai dan norma
nek aq sering senyum ke mbak-mbak yang cantik, malah bojoku ngamuk2 jeh.. piye kjal? wkwkwkwk…
lek seng iku aku gak melok-melok mas